Tak terasa senja hampir menghilang, kuingin setiap waktu ini terulang. Segalanya menjadi malam ketika terang kau sembunyikan di saku kepergian. Dan rinduku semakin dalam, saat mata terbuka dan pejam, bayangmu terlintas diam diam. Di meja sudut beranda, secangkir kopi tergeletak sendiri, ditinggalkan pemiliknya, pergi mencari puisinya yang dicuri gelora sang senja. Pada arloji yang mati, kuputar kembali jarumnya menuju angka tiga, tapi yang telah pergi, tak bisa kubawa kembali.
Aku masih di sini menghabiskan ampas senja yang kesekian. Di antara jarak yang memisahkan. Berkawan dengan jutaan rindu yang tertahan Semenjak kau pergi, senja kini tak lagi berpelangi, hanya mega mendung yang menghiasi, juga air mata yang jatuh membasahi bumi. Malam menyisir, sudah larut begini sudah sempatkah kau tengok rinduku? Ada desir yang menyisir di tiap rindu yang tak jemu pada geletar yang pijar. Detak yang merangkak mengarungi namamu. Bahkan ketika bayangmu semakin samar, bahkan ketika suaramu makin jarang aku dengar, lukaku karenamu masih saja memar. Kau tinggalkan wajah penuh airmata, melangkah membiarkan hati yang kecewa, sebuah kepergian, kutatap dengan rasa berlebihan. dan ku akhiri dengan setitik bening di sudut netra, menghias raut wajah nestapa, biarlah berderai air mata, memaksa senyum menutupi cerita.
