Ini puisi dimana...... sang tokoh merasa tak adil dengan semua yang dilampiaskan kepadanya, cacian makian dan teriakan meluncur untuknya. Puisi ini tidak sebagus seperti orang-orang yang telah mahir menarikan jari-jari mereka diatas kertas untuk membuat puisi, namun semoga ini cukup untuk meluapkan semua ke-gondok-an :)
Aku takut
Saat kamu meneriakiku
Ledakan emosi kerap kau berikan padaku
Menghinaku dengan mulut berbisamu
Aku takut
Saat tanganmu mulai mengambil ancang-ancang
Saat kau bersiap memukulku
Yang kubisa hanya menyilangkan tangan diatas kepala
Dan mengerang ketakutan
Ucapan itu, pukulan itu
Menjadi mekananku sehari-hari
Tapi mengapa ketakutan ini tak berhenti?
Ketakutan yang slalu menjalar ke seluruh tubuh
Selalu datang saat kau meledak
Aku lelah
Air mata ini slalu deras membanjiri pipiku
Luka yang slalu kau berikan tak pernah pudar digerogoti waktu
Slalu berbekas dan akan slalu bertambah
Tuhan, aku tak sanggup
Tiap keadaan seperti ini aku berpikir
Rumah siapa yang inginkau singgahi sementara
Tuk menjauhi raungan mematikan tak berguna
Aku hanya bisa berdoa dalam sunyi
Dan berharap semua ini hanya mimpi
Saat kamu meneriakiku
Ledakan emosi kerap kau berikan padaku
Menghinaku dengan mulut berbisamu
Aku takut
Saat tanganmu mulai mengambil ancang-ancang
Saat kau bersiap memukulku
Yang kubisa hanya menyilangkan tangan diatas kepala
Dan mengerang ketakutan
Ucapan itu, pukulan itu
Menjadi mekananku sehari-hari
Tapi mengapa ketakutan ini tak berhenti?
Ketakutan yang slalu menjalar ke seluruh tubuh
Selalu datang saat kau meledak
Aku lelah
Air mata ini slalu deras membanjiri pipiku
Luka yang slalu kau berikan tak pernah pudar digerogoti waktu
Slalu berbekas dan akan slalu bertambah
Tuhan, aku tak sanggup
Tiap keadaan seperti ini aku berpikir
Rumah siapa yang inginkau singgahi sementara
Tuk menjauhi raungan mematikan tak berguna
Aku hanya bisa berdoa dalam sunyi
Dan berharap semua ini hanya mimpi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar