Late-post sebenernya, aku nulis puisi ini saat ragaku dipisahkan oleh ketidakpastian, kira-kira sudah 2 bulan yang lalu aku menulis puisi ini. Guru B.Indonesia menyuruh kami untuk membuat puisi, aku bingung apa yang harus ku tulis, dan akhirnya sekelebat bayanganmu melintas di kesunyian malamku, dan dengan tekad ku tulis puisi ini untukmu, Bintang.
TAMPARAN RINDU
Pagi ini aku termenung
Menerawang langit biru tak bernaung
Mencari harapan yang dulu melambung
Sekarang pudar tertutup awan mendung
Mawar merahku kini kerut menghitam
Satu per satu gugur digerogoti sang
malam
Ilusiku tertuju pada kenangan yang
menghujam
Deras ombak suci yang tertampar sayap
kelam
Daun-daun kecil meranggas tak bernada
Mengalun sendu rindu di masa lalu
Kenangan terpendam yang hampir sayu
Ditelan ukiran sekuen kehidupanmu
Lentik
jemariku kembali menuju pesan lamamu
Pesan singkat
beresonansi tinggi dan gemuruh
Tepat
langsung melenyapkan ragaku dan terjatuh
Empat kata
sayatanmu
“Akhiri ini.
Lupakan aku.”
Seketika jemariku meraba kelu tulisan
itu
Berharap emosimu sekedar aksara semu
Walau tenggorokan kian kering meraju
Aku mohon padamu
Bintang, jangan rapuhkan dahanku
Tolong jangan redupkan atmosferku
kembali tak bernyawa
Mengikiskan lembaran harmoni yang kita
rajut bersama
Yang terbenam bersama intuisi tak
berirama
Dan mencapai titik amarah tak bergema
Emosi sesalku pecah tak berarti
Nuraniku hanya bisa berserah pada
illahi
Dalam sujud, isakpun mengiringi
Tuhan, aku ingin Bintangku kembali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar